100KATA.com Tulisan ini adalah gabungan tulisan saya dan istri. Semoga menjadi catatan yang menginspirasi teman-teman semua, termasuk yang masih menanti hadirnya amanah pertama. 

Kami termasuk pasangan yang pernah merasakan harap-harap cemas menanti hadirnya momongan pertama. Menikah bulan Agustus tahun 2017, dan baru positif 10 bulan kemudian. 10 bulan yang awalnya kami pikir akan “ringan” saja, ternyata tidak demikian.

Kami yang baru 10 bulan saja sudah “terasa”, apalagi mereka yang harus menanti bertahun, belasan tahun, bahkan ada yang sampai usia senja masih belum diberikan momongan. 😭 Semoga Allah mengganti tiap kesabaran dengan pahala kebaikan…

Pertanyaan “sudah isi belum?” adalah sesuatu yang ternyata tidak sesederhana tampaknya buat saya. 😂 Apalagi buat istri sebagai perempuan, yang sering kali menjadi tertuduh jika pasangan suami istri belum memiliki momongan.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kami menjalani masa awal kehamilan putra pertama dengan LDM, Long Distance Marriage. Sebuah kondisi yang memang harus demikian adanya, istri harus kuliah di Bandung, saya harus menyelesaikan kuliah di Semarang – sambil kerja.

Alhamdulillah, selama proses LDM tidak ada kendala yang berarti. Kuliah istri lancar, dan semester satu ditutup dengan nilai yang cukup membanggakan. Untuk seorang bumil yang harus membawa bayi dalam kandungan kemana-mana, sambil menyelesaikan tugas kuliah 😍👏👏 Jadi ngerti kan, kenapa surga di bawah telapak kaki ibu? Perjuangannya! 💪

Kejutan

Sesuai hasil USG di bulan ke enam, tujuh dan delapan. Dokter kandungan memperkirakan anak pertama kami besar kemungkinan adalah cewek. Karena tidak ada “tanda” cowok selama USG, you know what I mean 😂🤣 burungnya tak tampak sodara! wkwk…

Berbekal keyakinan anak pertama cenderung cewek, dan saya sendiri memang ngebet pengen anak pertama cewek. Kami membeli berbagai perlengkapan bayi yang tidak terlalu cowok, tapi juga tidak terlalu cewek, semacam antisipasi kalau ternyata pas lahiran nanti yang launching malah cowok.

Btw, saya pengen anak pertama cewek lebih disebabkan karena follow akun @retnohening dengan Kirana-nya dan @dewi.n.aisyah dengan Najwa-nya. Plus, kakak pertama saya dari empat bersaudara adalah perempuan. Rasanya anak pertama cewek akan lebih ngemong adik-adiknya. 😅

– opini pribadi sedjak lama 😀

Oh iya, kami sudah mempersiapkan dua nama untuk cewek-cowok. Masing-masing tiga suku kata, mempertahankan tradisi keluarga besar istri 😂😂 saya excited karena anak pertama kemungkinan besar cewek. Sampai akhirnya …

22 Januari 2019. Jadwal USG terakhir sebelum lahiran. Kata dokter semua bagus, janin sehat, beratnya normal (kegedean dikit sih jadi harus diet biar pas HPL gk terlalu besar). Kami optimis bisa lahiran normal, gak perlu acara ke RS yang ribet-ribet 😂 eeh, ternyata hasil USG terakhir ini bayi yang ada dalam kandungan istri fix cowok. 😍😍 Alhamdulillaah, kejutan!

Sabtu 26 Januari

Dinihari sekitar pukul 02.00 saya dibangunkan istri yang tampak cemas. Cemasnya menular ke saya dan terlebih ibu mertua… Ketuban mengalami pecah dini bukan hal yang baik yang seharusnya terjadwal lahir 12 Februari, ini malah 2 pekan lebih cepat dari HPL. Semua harus kalem dan tenang, gak boleh grusa-grusu, seperti kata pak Wiranto di sini. All iz well!

Habis shubuh, saya dan istri pelan-pelan meluncur ke bidan yang dijadwalkan menangani lahiran. Sangat hati-hati naik motor sambil was-was air ketuban yang masih merembes keluar. Tanda-tanda mules sebagai awal proses kelahiran sama sekali tidak tampak.

“Kalau sampai jam 8 pagi belum ada kontraksi, harus dirujuk ke RS ya a (mas)”

Kata bidan Euis

Optimisme untuk lahir normal sempat hilang, keinginan lahiran di bidan akhirnya juga tidak bisa diwujudkan. Tapi demi keselamatan ibu dan bayi, pilihan yang ada harus diambil.

Pukul 08.00 masuk RS dan langsung dirujuk ke IGD. Masuk ruang persalinan dan langsung diinduksi. Hari itu anak kami harus keluar, tidak ada pilihan lain. Air ketuban yang terus keluar menjadi batas waktu maksimal bisa lahiran normal, jika sampai pukul 19.00 tidak berhasil normal, maka harus SC. Pilihan yang membuat ibu mertua dan istri sama-sama menangis, tapi mau gimana lagi. Semua demi keselamatan ibu dan bayi. Ikhtiar sudah, sekarang tinggal berpasrah.

Pukul 11.00 – 14.00 efek induksi berjalan dan mules mulai datang sampai berhasil sampai bukaan 4.

Pukul 15.00, bukaan 8. Optimis istri, saya dan ibu mertua meningkat. Apalagi di samping ruang persalinan istri pas, ada proses persalinan bayi yang baru berhasil lahir.

Pukul 16.00, bukaan 10. Masih optimis bisa lahir normal. Istri terus berusaha sekuat tenaga mendorong si jabang bayi. Tapi sayangnya tenaga sudah terkuras sejak pagi dan air ketuban makin sedikit. Kami mulai cemas dengan pilihan SC, selain belum ada rencana pengeluaran biayanya, juga karena ngeri sama sakitnya dan tindakan pasca operasi yang sama sekali belum ada gambaran.

Pukul 18.00, percobaan ikhtiar terakhir untk lahir normal. Tiga orang bidan menekan bagian perut atas istri, mendorong sekuat mungkin dan dua orang siap di bawah untuk membantu. Dan, lagi-lagi tidak berhasil. Batas waktu yang harusnya pukul 19.00 harus dilakukan operasi SC ternyata berubah, dipercepat. Melihat perkembangan istri dan kondisi air ketuban yang hampir habis, tindakan SC harus dilakukan dengan segera demi keselamatan ibu dan bayi.

Saya dipanggil bidan dan menandatangani beberapa berkas yang intinya menyetujui tindakan operasi, berelembar-lembar yang sama sekali tidak sempat terbaca. Kadung khawatir…

Adzan maghrib istri yang dalam kondisi setengah sadar masuk ke Unit bedah untuk tindakan SC. Antara kecapekan sejak pagi dan lemas karena ikhtiar lahiran normal yang dilakukan sejak pagi harus dipungkasi di meja operasi.

26 Januari 2019 – Pukul 18.45, sesuai catatan rekam medis, anak pertama kami terlahir dengan sehat dan selamat. Panjang 50cm, berat 3,18kg. Detik pertama melihat, rasanya penantian panjang dan segala ikhtiar yang diupayakan sebelumnya terbayar lunas. Rasa bahagianya melebihi perasaan saat selesai ijab qabul 😍😍

Malam itu juga saya resmi menjadi seorang bapak, sebuah gelar maha terhormat untuk seorang laki-laki dan suami. Tanggung jawab sudah menanti di depan, untuk membesarkannya dengan rezeki halal dan membersamainya agar tangguh menghadapi zaman.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

[Al Kahfi:46]

Jadilah sang pencerah, Nak! Sebagaimana doa yang kami sisipkan dalam namamu: Tsaqib Ahsana Lubab. Anak laki-laki yang cerdas akal, mencerahkan dan berbudi baik.

Majalengka, 9 Februari 2019.

Ilustrasi gambar: Luma Pimentel