Enam Bulan Pertama Tsaqib

100KATA.COM – Tulisan ini rencananya bakal di post pas usia Aqib nginjak 6 bulan, tapi apa daya Si Emak ini ngulur-ngulur dengan segala alesan. Sebelum segala tugas kuliah menyita banyak waktu, sesegera mungkin memaksa diri untuk posting tulisan. Dann, taraa!! akhirnya tulisan ini muncul dalam rangka kado pernikahan di tahun kedua kami (19 Agustus kemarin).

Tepat 2 tahun di usia pernikahan, kami memulai babak baru kehidupan. Hari pertama kuliah, plus hari pertama Aqib quality (full) time bareng Ayah, tanpa Ibuk (yang ngampus). Kabar sekaligus kado terbaik lainnya bagi kami adalah: alhamdulilaah Aqib bisa bekerja sama dengan sangat baik.

Jika melihat ke belakang, adanya kesempatan cuti beberapa bulan silam idealnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif seperti membaca, nulis, atau apapun yang biar gak nyesel saat waktu luang menjadi hal yang kembali langka.

Tapi sayangnya, semua itu hanya sebatas wacana, hingga tak terasa waktu sudah memaksa untuk kembali melanjutkan studi. The power of kepepet, benar-benar jadi kekuatan buat maksa diri nulis lagi. Dan dengan berakhirnya masa nyantai (cuti) ini, tak terasa usia anak bayi sudah melewati 6 bulan pertamanya. 26 Juli 2019 kemarin tepat umur Aqib 6 bulan.

Hari pertama kelahiran Tsaqib

26 Januari 2019, adalah hari pertama Ia hadir di dunia, dengan bakat alamiah yang melekat, tanpa ada yang mengajari, kemampuan pertamanya adalah mencari sumber kehidupannya: ASI. Hisapan yang semakin kencang rupanya tak mampu menghilangkan rasa dahaga karena sampai hari kedua ASI belum keluar. Allah dengan keadaan tersebut mengajarkan rasa sabar dan ikhlas sejak awal-awal kehidupannya.

Ketika masih rawat inap di RS, setiap hari dokter selalu melakukan observasi, dan kami bersyukur dapat dokter yang bijak dalam bersikap.

“Tenang dan tetap optimis ya Bu, ASI pasti keluar. Efek masih adaptasi ngelola sakit bekas operasi sesar (Sectio Caesaria), sehingga belum fokus sama ASI, jadi wajar tidak langsung keluar di awal kelahiran” Dokter di RSUD Majalengka

Saat itu juga saya dan dengan didukung ibu dan suami banyak belajar tentang ngelola emosi : sabar, optimis, fokus, ikhlas. Selain faktor asupan gizi, dan berbagai faktor pengetahuan ilmiah lainnya, ASI juga tentang bagaimana mengelola emosi. Alhamdulillaah, selain Dokter. Keberadaan Pak Misua dan Ibu yang nemani saya di RS tak henti untuk saling support mengingatkan dan menguatkan untuk fokus dengan kelancaran ASI.

“Jalan lahir dengan cara apapun, adalah jalan terbaik atas ikhtiar dan do’a yang dipanjatkan. Sekarang saatnya fokus mengASIhi. Jangan bosan! Istiqomah untuk terus dirangsang oleh anaknya ya Bu, setiap 2 jam sekali sampai keluar. Jangan dulu diberikan apapun! Insya Alloh anak masih kuat, jangan khawatir, selalu saya pantau” Dokter itu lagi.

Berbagai saran terus dicoba, hingga kadang-kadang Aqib menangis kencang di tengah ikhtiarnya mendapatkan ASI. Pun kami yang kadang ikut meneteskan air mata, karena gak tega melihatnya kehausan. Tapi sesegera mungkin untuk kembali saling mengusapnya.

Di hari ketiga ASI sudah mulai keluar, tetepi belum mencukupi kebutuhan cairan tubuh Aqib, ASI masih sangat sedikit. Hingga hasil observasi di hari itu berat badannya turun dan terindikasi kuning. Setelah cek lab, ternyata benar, kadar bilirubin Aqib tinggi sampai 19 mg/dL. Menurut tenaga kesehatan yang kami tanyakan di RS, di umur Aqib yang baru beberapa hari, kadar normal bilirubinnya harusnya 12 atau 13 mg/dL, atau di bawah 15 masih bisa ditolerir.

Hari keempat, saat keputusan yang begitu berat harus kami terima dengan ikhlas. Saya sudah diperbolehkan pulang dari RS, dan Aqib harus menjalankan terapi sinar ultaviolet untuk menurunkan kadar bilirubinnya. Terapi dilakukan per 2×24 jam di ruang khusus, orang tua disediakan ruang tunggu, tapi tempatnya kurang ramah bagi orang yang habis operasi seperti saya. Kami mencoba meminta kepada pihak RS agar saya tetap di ruangan dulu selama Aqib menjalani terapi, sebagai orang tua tentu ingin juga membersamai perjuangannya, tapi tetep gak bisa.

Akhirnya dengan berat hati, saya harus pulang tanpa Aqib. Aqib ditemani Ayah (pak suami) walaupun di ruang yang berbeda. Malam-malamnya harus tidur tanpa Ayah dan Ibu, berjuang bersama teman-teman bayi yang lain. Sesekali dilihat Ayah, untuk sekedar menenangkan dirinya kalau ada orang tersayang di dekatnya, atau untuk sekedar mengurangi rasa kangen saya lewat foto yang Ayah kirim.

Tsaqib saat disinar

Rasanya kondisi tersebut adalah salah satu hari-hari paling melow bagi saya. Ada rasa bersalah yang mendalam sebagai seorang Ibu, saat melihat anaknya harus terbaring sendiri berjuang untuk kesehatannya, yang salah satu faktornya atas kelalaian saya sebagai Ibunya.

Tapi semuanya tidak lepas dari campur tangan Alloh yang selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi. Mencoba terus me-manage diri dalam keadaan apapun dan ikhtiar dengan mengkonsumsi makanan yang dianjurkan dokter, semuanya dalam rangka kelancaran ASI, untuk kesehatan Aqib. Seiring Aqib menjalankan terapi, ASI terus saya peras untuk dikirim, seberapapun ASI yang didapat, Ayah selalu bolak balik antar jemput ASI untuk Aqib. Atau sesekali saya ikut ke RS untuk jenguk Aqib sambil mengasihi.

Hari kedua terapi bilirubin, seperti biasa, pagi hari saya jenguk Aqib. Ternyata masih ada dokter visit, kami menunggu di ruang tunggu sekaligus merencanakan konsultasi tentang kondisi terbaru Aqib.

“Kira-kira dalam 2×24 jam itu bisa turun berapa bilirubinnya Dok?” tanya kami.

“Paling-paling turun 2 atau 3, tergantung anaknya, tapi coba aja nanti lihat hasil cek laboratorium keluar setelah lewat pukul 14.00” jawab Dokter.

Deg, kalau cuman turun 2 atau 3, kadar billirubin Aqib baru sampai 16 atau 17, belum sampai di bawah 15. Kemungkinan lanjut terapi 2×24 jam. Sedangkan kami sudah berencana aqiqah di hari ketujuh kelahiran Aqib, sisi lain aqiqah juga momen perkenalan anak bayi, jika anak bayi masih di RS karena harus lanjut terapi, maka kami harus ikhlas se-ikhlasnya acara aqiqah tanpa Aqib. Begitu, pikiran kami sebagai manusia.

Pukul 14.00 hasil analisis laboratorium sudah keluar, kami menghubungi pihak RS kembali, masya Alloh tanpa disangka kadar billirubin Aqib sudah di bawah 15 mg/dL, dan Aqib boleh pulang walaupun dengan syarat tertentu, karena masih tergolong kadar yang tinggi. Kami terus ikhtiar dengan berjemur dengan sinar di pagi hari dan ASI yang rutin kami berikan, karena obat untuk menstabilkan kadar kuning terbaik pada bayi adalah ASI. Alhamdulillah saat itu, ASI sudah mulai lancar.


Memasuki bulan kedua, alhamdulillaah malam-malam Aqib bisa dilalui tanpa banyak drama, jarang bangun tengah malam selain saat kondisinya kurang fit. Di usia Aqib yang masih mungil ia harus terserang batuk pilek tepat setelah demam pasca imunisasi. ASI yang sudah diminumnya beberapa kali keluar karena muntah, nafas grok-grok, sering kebangun di tengah tidurnya.

Bagi yang sudah terbiasa atau pernah ngurusi anak mungkin hal biasa, tapi karena kami ini masuk golongan keluarga newbie, jadi segalanya serba khawatir, termasuk kekhawatiran di bulan berikutnya saat Aqib sempat gak pup 2-3 hari. Kami sudah mencoba berbagai cara sebelum membawanya ke dokter. Sabar, tenang dan ikhtiar adalah hal yang perlu menjadi bekal untuk para orang tua. Kadang-kadang anaknya santai-santai aja, tetep happy, tapi kitanya yang malah was-was, gak tegaan dan kurang stok sabar. Jadi banyak pikiran yang gak karuan hehe

Tsaqib sekarang (6 bulan +)

Aslinya masih banyak cerita, berbagai kebahagiaan dan drama-drama galau Ibu muda atau kami sebagai pasangan keluarga baru di 6 bulan pertama mengasuh bayi, dan tak henti ucap syukur akhirnya terlewati dengan baik, Alhamdulillah.

Enam bulan pertama Aqib yang berlalu ini beriringan juga dengan lulusnya ASI ekslusif, harapannya: semoga Alloh selalu mampukan kami untuk menjadi penyambung rejeki-Nya sampai 2 tahun ke depan dalam mengASIhi.

Masih ada 1,5 tahun lagi untuk tetap istiqomah berjuang memberikan hak ASInya Aqib. Pun masih perlu banyak belajar menjadi orang tua yang baik, istri yang baik dan rekan diskusi yang baik untuk pak swami. Jika 6 bulan pertama masih banyak bantuan dari orang tua, bulan-bulan berikutnya, terhitung Agustus ini, kami akan mulai belajar menjadi ‘keluarga seutuhnya’, merantau tanpa ‘siapapun’. Hanya saya, pak suami dan Tsaqib.

Bertambahnya banyak peran, pasti akan turut menguatkan kami agar saling bahu-membahu dalam berbagi peran. Saatnya kembali menghadapi hal-hal yang tertunda, menyelesaikan apa yang sudah sepakat kami mulai bersama, ya keluarga, ya studi dengan tetap berbahagia dalam menjalaninya. Menjadi orang tua dan pembelajar. Bismillah, selamat datang babak baru 😊

Bandung akan menjadi tempat berkesan, dalam kehidupan kami dan cerita-cerita yang bisa kami bagikan kelak.

Ditulis di Bandung, 20 Agustus 2019

Gambar: Maddi Bazzocco

Share:

Join the discussionSHARE YOUR THOUGHTS