Ketika Rupiah Menguat(irkan)

100KATA.COM – Entah kenapa setiap kali dollar menguat, pikiran saya justru selalu kembali bernostaliga dengan Pilpres tahun 2014. Bukan masalah move on atau tidak, atau saya pendukung Pak Jokowi atau tidak. Itu bukan topik yang perlu dibahas di tulisan ini 😀

Tahun 2014 saat hangat pembentukan opini di masyarakat menjelang Pilpres, tentu suatu hal yang lazim jika ada janji bersliweran di Timeline media sosial dan kanal berita mainstream. Baik oleh beliau sendiri, atau menggunakan orang lain untuk menjadi “sumber” pemberitaan. Salah satu yang cukup menarik adalah: Jokowi Presiden – Dollar 10.000. Sebuah janji yang menurut saya saat itu sangat hebat. Karena memang bukan hal mudah untuk mewujudkannya.

Rekam jejak digitalnya juga masih bisa kita akses hingga hari ini:

  1. TEMPO: Jokowi Jadi Presiden, Rupiah Bisa Tembus 10 Ribu
  2. KOMPAS: Jokowi-Kalla Terpilih, Rupiah Bisa Menguat ke Level 10.000?
  3. DETIK: Bank Asing: Percaya Atau Tidak, Dolar Turun ke Rp 10.000 Kalau Jokowi Presiden

Dan masih banyak yang lain, yang isinya kurang lebih sama. Opini publik digiring untuk mengamini suatu kondisi yang diharapkan rupiah menguat jika Pak Jokowi Presiden. Tentu tidak ada yang salah dengan cara seperti ini.

Yang jadi masalah adalah, kalau kondisi aktualnya malah seperti sekarang harus bagaimana? Ketika janji yang diharapkan malah melenceng jauh? Ya harus happy aja, #eh. 😂😂😂

Sebagai pekerja freelance yang dibayar menggunakan satuan $ saya pribadi malah tidak ada masalah dengan naiknya dollar dan melemahnya rupiah. Karena saya memang tidak memiliki “kekuatan super” untuk bisa mempengaruhi kuat tidaknya rupiah. Saya ini bisa apa supaya dollar melemah? 😁

Saya pikir yang pusing hari ini adalah Pak Jokowi dan staff ahli di sekitarnya. Bagaimana strategi membangun citra untuk menghadapi Pilpres 2019? Wong janji tahun 2014 juga masih banyak yang belum lunas dan cenderung disebut mblenjani. Iya kan?

 

Ditulis santai sambil ngeteh.
Semarang, 25 April 2018