Lalu, Mari Kita Berikan Waktu Untuk Zohri

Lalu Muhammad Zohri

100KATA.com – Oleh Fahd Pahdepie.

Siapa yang tak bangga dengan prestasi Lalu Muhammad Zohri, pemuda 18 tahun asal NTB yang mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai kejuaraan lari U-20 tingkat dunia? Sejarah mencatatnya sebagai yang pertama—yang paling membanggakan dari Indonesia.

Menyaksikan Zohri melesat di lintasan lari IAAF U20 Championship di Finlandia, dada kita berdegup bangga. Ia berhasil menjadi yang pertama melewati garis finish, mengalahkan para pelari unggulan dari Amerika Serikat, Jamaika, Swedia, dan negara-negara unggulan lainnya. Selepas selebrasi dan sujud syukurnya, Zohri bukan hanya berhasil menjadi manusia tercepat di dunia, tetapi sekaligus sukses melesatkan kisah hidupnya yang luar biasa ke hati kita semua. Membuat kita haru, bangga, kagum.

Bagaimana tidak? Usianya baru 18 tahun. Asa masih terbentang panjang bagi Zohri yang bisa menyumbangkan aneka prestasi gemilang lainnya untuk bangsa ini. Dan lebih luar biasa lagi, publik dibuat hangat dadanya oleh kehidupan pribadi Zohri: Ia yang sederhana, dikenal baik di lingkungannya, bahkan rajin berpuasa. Zohri adalah potret milenial Indonesia yang patut kita banggakan—dengan keseluruhan aspek individualnya. Tak tertolak.

Namun, di sinilah masalahnya. Bisakah kita memberi Zohri waktu dan menghargai privasinya? Setiap kali prestasi membanggakan ditorehkan oleh insan olahraga Indonesia, saya kerap bersedih melihat respons media—juga sebagian dari masyarakat kita—terhadap jagoan-jagoan kita ini. Saya merasa media sering melakukan ‘offside’ yang justru akan merusak karakter dan bahkan masa depan atlet-atlet tersebut.

Saya kira, sepakbola sudah sering menjadi korbannya. Ekspose berlebihan terhadap atlet olahraga paling populer ini kerap membuat peluang juara kita justru lepas dari genggaman. Sepakbola Indonesia sebenarnya tak jelek. Kita kerap bermain gemilang. Tetapi sering gagal meraih juara… Saya kira salah satunya adalah karena cara kita—terutama media—dalam memperlakukan para atlet nasional kita.

Saya ingat final piala AFF tahun 2010. Saat itu timnas kita solid dengan talenta-talenta luar biasa. Tugas kita hanya tinggal mengalahkan Malaysia di final untuk membawa pulang piala sebagai juara. Tetapi, di final permainan timnas mendadak berantakan… kita dibuat heran dengan Marcus Horison saat itu, juga dengan Cristian Gonzales yang sebelumnya tampil memukau. Di babak final menjadi tak bertaring lagi.

Tim pelatih dan pakar bisa menjelaskan masalahnya, tentu saja. Tetapi saya melihat ada faktor psikologis di sana… Dan peran media cukup besar untuk merusak sisi psikologis atlet kita tersebut, paling tidak membuatnya tidak fokus dan sibuk mengurusi citra diri. Alih-alih memberi waktu dan menghargai privasi para atlet, media kita entah mengapa doyan ‘mengganggu’ kehidupan pribadi para atlet ini dengan mengekspos berlebihan kehidupan pribadi mereka: Masa lalunya, rumahnya, keluarganya, hubungannya dengan selebritas tertentu, komentar kerabat dan teman-temannya, juga lainnya.

Tentu ini tak berlaku bagi dunia sepakbola saja—yang sudah memakan banyak korban atlet gemilang seperti Zaenal Arief, Marcus Horison dan lainnya. Bulutangkis, misalnya, juga sama. Saat ada atlet yang bersinar, atau bahkan juara, insan media kita sibuk melebarkan fokus pemberitaan ke dunia di luar olahraga—merangsek hingga ke kehidupan mereka yang paling personal. Saya ingat saat Owi-Butet memenangkan medali emas Olimpiade 2016 lalu, alih-alih tetap fokus pada prestasi olahragaya, media kita justru menyodori kita aneka cerita soal agama, perasaan keluarga, kebiasaan personal, hingga remeh-temeh lain yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan prestasi olahraga.

Dan kini, pola yang sama berlaku lagi pada aneka pemberitaan di sekitar prestasi Zohri. Tiba-tiba kita dibombardir aneka berita tentang rumah Zohri yang reyot, tentang bagaimana kedua orangtuanya meninggal, tentang kepala sekolah-guru olahraga-tetangga Zohri, apa makanan Zohri sehari-hari, kehidupan beragamanya, dan lainnya. Apakah semua itu memang perlu kita tahu? Perlu kita masuki padahal semua itu privasi seorang Zohri?

Saya bisa mengerti tujuan wartawan atau media tertentu yang meliput ‘sisi lain’ hingga keseharian Zohri yang memberi kita prestasi membanggakan. Saya mengerti media-media ini ingin memberi tahu kita sentimen tentang ‘from zero to hero’ betapa anak desa yang telah ditinggalkan kedua orangtuanya bisa menjadi pahlawan bagi negara, tentang kegemilangan Zohri yang bak ‘fairy-tale’ dari rumah gubuk ke panggung gemerlap dunia. Tetapi bukan begitu caranya. Bagi saya itu melanggar privasi dan akan berefek buruk bagi mentalitas—atau paling tidak konsentrasi Zohri sebagai atlet—dalam jangka panjang.

Kita sudah punya banyak contoh selebritas atau atlet yang dirusak kualitasnya oleh gempuran media, bom waktu citra, dan segala hal yang sebenarnya tidak perlu mereka pikirkan. Apalagi ditambah karakter sebagian masyarakat kita yang kadang-kadang bisa setinggi langit, sekaligus juga bisa memaki secara membabi buta.

Sekarang, saya ingin mengajak untuk mengapresiasi prestasi Zohri dengan cara yang wajar. Kita rayakan bersama prestasi gemilang yang telah ditorehkannya dan beri Zohri penghargaan yang layak. Tetapi, tak usah berlebihan. Beri Zohri waktu untuk terus menempa diri dan mengukir prestasi lebih hebat lagi—saya yakin ia punya potensi yang sangat besar dan bisa mencapai prestasi hebat lebih dari hari ini. Salah satu pembuktiannya ada di ajang Asian Games mendatang.

Untuk teman-teman media, berhentilah merangsek terlalu jauh melewati batas-batas privasi Zohri. Tak usah berlebihan. Kasihan dia. Kalau kalian memang memiliki niat mulia agar Zohri mendapatkan penghargaan yang layak ia terima dari masyarakat dan negara, caranya bukan dengan mengobrak-abrik privasinya. Tulis berita yang baik tentang prestasi olahraganya. Saya yakin negara melalui aparaturnya akan memperhatikan Zohri. Ia adalah aset besar bagi negeri ini.

Akhirnya, mari kita beri Zohri penghargaan yang tinggi atas prestasinya. Tetapi, juga mari beri Zohri waktu untuk terus berlatih, terus berkembang, terus berkonsentrasi dengan karir olahraganya. Tak lupa pula, kita hargai privasinya.

Tabik!

Sumber:  Instagram, Judul: MARI BERI ZOHRI WAKTU DAN HARGAI PRIVASINYA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *