Menanti Momongan

100KATA.COM – Seorang wanita yang baru menikah kurang dari tiga bulan baper luar biasa karena belum ada tanda-tanda kehamilan. Sedangkan semua yang di sekitarnya selalu memberikan pertanyaan sama, “sudah isi belum?”. Pertanyaan yang sebenarnya sederhana ini memberi dampak luar biasa berat, terlebih bagi seorang perempuan. Entah kenapa, jika sepasang suami istri sudah menikah dan belum memiliki momongan, wanita selalu tertuduh sebagai sosok yang bisa disalahkan.

Bayangkan mereka yang sudah berbulan, bahkan bertahun-tahun menunggu. Entah sudah berapa ratus pertanyaan serupa yang hampir-hampir tiap hari masuk dan menjadi beban pikiran. Sedangkan ikhtiar sudah, berbagai saran dan masukan juga sudah dicoba, ternyata juga belum membuahkan hasil. Orang-orang seperti ini bukan tidak berusaha, tapi memang takdir Allah belum menggariskan untuk memiliki momongan. 

Bapak Jamaludin Ahmad, yang memberikan khutbah di pernikahan kami  bercerita bahwa beliau menunggu hingga tujuh tahun sampai Allah berikan amanah anak pertama. Tujuh tahun yang tentu luar biasa berat dan penuh perjuangan. Meyakinkan diri sendiri untuk kuat, dan harus menguatkan partner hidup (pasangan) untuk terus ikhtiar menyambut rezeki itu. 

Siapa saja tentu menginginkan memiliki momongan setelah menikah. Sebab kehadiran anak merupakan kebahagiaan tersendiri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kebahagiaan untuk pasangan, sanak saudara dan tetangga yang hidup di lingkungan kita. 

Banyak pasangan yang resah menanti, harap-harap cemas, tiap bulan rutin beli testpack sebagai bagian dari ikhtiar menyambut hadirnya amanah. Tapi juga belum kunjung datang. 

Amanah Itu Pasti Datang…

Siapa sih yang suka menunggu terlalu lama? Kami termasuk yang harap-harap cemas. Sudah berbulan-bulan pernikahan kok belum juga ada tanda-tanda kabar bahagia. Sedangkan beberapa kawan yang menikahnya belakangan, sudah ada yang diberikan amanah luar biasa tersebut. 

Istri mungkin merasa bersalah, sekalipun saya tidak pernah menyebutnya demikian. Seringkali meminta maaf, tiap kami testpack tetapi tanda-tanda kabar membahagiakan itu belum tampak. Makin lama usia pernikahan, rasanya makin berat saja menjawab pertanyaan itu. Bukan kami tidak berikhtiar, tapi bukankah anak termasuk rezeki yang jadi urusanNya? Tugas manusia adalah berprasangka baik. Right?

Sebaik-baik rencana, memang Allah yang Maha Baik skenarionya. Di bulan Ramadhan yang baik, di 10 hari terakhir, dan di 10 bulan setelah pernikahan, kabar gembira itu datang. Kedatangannya di bulan yang tidak terduga sama sekali, karena promil (program kehamilan) yang kami ikhtiarkan memang stop dulu di bulan puasa. Qodarullah, ternyata malah dihadirkan rezeki yang kami tunggu-tunggu itu. 

Kebahagiaan itu semakin lengkap dengan diterimanya istri kuliah di kampus impian. Dan bulan September kemarin Allah lengkapi lagi kejutan itu dengan istri lolos di list penerima Beasiswa Unggulan, satu per satu beban yang pernah kami risaukan mampu diganti dengan rezeki baik dan tidak disangka-sangka. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan, ada kemudahan…

Ikhtiar, Jangan Berhenti

Ada yang Allah berikan momongan dengan cepat. Ada yang harus menunggu berbulan hingga bertahun-tahun. Tidak ada rumus pasti, yang ada adalah kepastian kita untuk merumuskan ikhtiar. Setidaknya kita meyakini, bahwa dengan usaha maksimal pasti akan ada hasil yang baik juga. Jika belum sekarang, tentu akan diganti di waktu mendatang. Berprasangka baik, terhadap segala keputusanNya. 

Seorang kawan baik kami di Jogja harus merelakan amanahNya diambil, bahkan ketika calon bayi itu belum pernah berdetak jantungnya. Sesuatu yang sangat ditunggu dengan sukacita itu bahkan harus direlakan, ketika senyum bahagia belum juga terlepas harus terganti dengan kenyataan berat. Semoga Allah segera berikan amanah berikutnya ya…

Allah yang Maha Mengetahui kebutuhan kita. Mana yang sangat kita inginkan hari ini, bisa jadi bukan merupakan kebutuhan kita hari ini di hadapan Allah. Jika waktunya sudah tepat, insyaAllah kesempatan itu akan hadir dengan berbagai ceritanya yang tak terlupakan. 

Jangan pernah kecewa dan berputus asa. Nikmatilah waktu yang dimiliki saat ini. Dengan banyak belajar dan mempersiapkan diri menjadi orang tua. Jika amanah itu hadir, maka pastikan kita akan menjadi sebaik-baik orang tua yang mengarahkannya ke dalam kebaikan.

Kutipan tulisan di blog istri ini menarik ❤


Sejak dalam kandungan, ada harapan yang ingin kami tanam, kelak kau akan tumbuh menjadi manusia sederhana yang bersahabat dengan dunia dan dekat dengan akhirat. Akal sebagai pembeda manusia dengan makhluk lainnya adalah bekal untuk menebar manfaat, kebaikan, juga budi yang baik, hingga kelak kecerdasan akal akan mengantarkanmu untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta, Nak. Ulul Albab!

(Halida Rahmi Luthfianti, 2018)

Semarang, 3 November 2018.