Menuju Purnama Pertama LDM

100KATA.COM – Hari ini barangkali adalah salah satu hari terbaik saya dan istri sebagai pasangan sah, selain prosesi akad nikah yang telah tunai dilaksanakan satu tahun silam.

Salah satu komitmen yang kami pegang saat menuju pernikahan adalah untuk menggapai pendidikan sebaik-baiknya (setinggi-tingginya), dengan ikhtiar semaksimal mungkin. Sehingga sejak awal, pendidikan memang menjadi salah satu prioritas kami bersama.

Dan…

Setelah hampir dua tahun berjuang (terhitung sejak lulus tahun 2016), hari ini Allah meng-ijabah mimpi istri untuk kuliah di kampus impiannya sejak zaman MTs: ITB. Sedangkan saya sendiri masih harus merampungkan apa yang sudah dimulai di Diponegoro, Semarang.

Long Distance Marriage
Foto: nisadanchicco

Terpisah jarak yang lumayan, LDM (Long Distance Marriage) menjadi solusi yang harus kami pilih, dengan segala konsekuensi dan pertimbangan. Mengingat kehamilan istri yang juga sudah memasuki bulan ke empat. Bismillahirrohmanirrohim, Allah sebaik penjaga.

Ditanya apa resepnya berani LDM, maka jawabannya tidak ada resep. Wong kami berangkat bermodal resep bahagia je. 😂 Sangat bahagia. Apalagi istri yang sedang senang-senangnya dengan kehamilan pertama “13 weeks” – khawatir iya, tapi porsi semangat belajar alhamdulillah jauh lebih besar!

Kami percaya, Allah selalu membersamai ikhtiar-ikhtiar kami. Selalu ada campur tanganNya hingga kami diberikan kesempatan untuk mencapai tahapan yang ini. Meskipun sebagai keluarga pastinya ada masalah, kami yakin semua baik-baik saja dalam LDM. All is well – Ranchodas.

Soal rindu dan cemburu, dan berbagai kekhawatiran ketika terpisah jarak. Barangkali akan menjadi bumbu, yang semoga menguatkan ikatan hati kami sebagai suami istri. Bentangan jarak Semarang – Bandung semoga menjadi sumber kekuatan untuk lebih baik lagi. Kata senior, “LDM bisa menjadi salah satu alasan biar bisa kuliah lebih cepat selesai” – Azaki Khoirudin. 😂😂

Dukungan keluarga adalah kekuatan berikutnya yang memantapkan kami untuk LDM. Alhamdulillah, bersyukur diberi keluarga besar yang mendukung studi. Sekalipun dukungan berwujud do’a, itu lebih dari cukup untuk menjadi kekuatan kami. Semoga teman-teman semua yang belum menemukan tambatan hati, juga diberi rezeki jodoh sesuai dengan yang diharapkan.

Akhir Agustus 2018, akan menjadi bulan pertama kami “berpisah” sementara waktu.  Kata pasto, “Aku pasti kan kembali!” wkwk 😂. Tapi yang terpenting, kata KH. Ahmad Dahlan adalah motivasi terbesar kami untuk terus mengenyam pendidikan:

“Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (profesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah.” Bismillahirrohmanirrohim…

Bandung, 1 Agustus 2018
Hujan